Watford Vs Chelsea: Penentuan Nasib Antonio Conte

jpnn.com, WATFORD - Dalam empat musim kariernya, Antonio Conte belum pernah lebih dari lima kali menderita kekalahan. Entah itu saat di Juventus dan Chelsea.
Maka, jika dalam laga tandang ke markas Watford, Selasa (6/2) dini hari Chelsea kalah, itu adalah catatan buruk buat Conte. Pria Italia itu akan seperti kembali seperti ketika dia untuk kali pertama merasakan kompetisi kasta pertama di Italia bersama Atalanta.
Nah, sejatinya, Vicarage Road (kandang Watford) adalah bagian dalam sukses Antonio Conte di Premier League. Musim lalu di balik capaian sensasionalnya memenangi Premier League, di Vicarage Road-lah dia memulai kemenangan tandang Premier League-nya bersama Chelsea. Musim lalu, Chelsea di bawah nakhodanya mengalahkan Watford 2-1 (0-0) pada matchweek ke-2.
Musim ini Vicarage Road juga bisa jadi stadion terakhirnya bersama The Blues. Itu terjadi jika The Godfather kembali gagal menyelamatkan Chelsea dari kekalahan. Kenapa? Di media-media Inggris, laga ini disebut-sebut sebagai laga penentuan masa depan Conte.
Tidak cuma karena Chelsea-nya Conte baru sekali menang dalam sebulan, musim kedua Conte di Inggris pun terancam tanpa trofi. Setelah trofi Piala Liga lepas, back to back jadi juara Premier League juga tinggal menanti keajaiban jika Manchester City meneruskan tren gagalnya mendulang tiga angka. Piala FA dan Liga Champions? Masih jauh.
Apalagi, ada disharmonisasi antara relasi Conte dengan Roman Abramovich. Kondisi itu sudah terjadi sejak dia meminggirkan David Luiz dari starter, 5 November lalu. Sama seperti di balik tersisihnya Jose Mourinho dari London Cobham saat 17 Desember 2015, kendali di ruang ganti pun tak mampu dikuasai Conte.
London Evening Standard mengklaim, hanya Cesar Azpilicueta yang berada di belakang mantan pelatih timnas Italia itu. ''Akan sangat mengejutkan apabila akhir musim ini dia (Conte) masih berada di sana (Chelsea),'' ucap mantan gelandang timnas Inggris yang sekarang menjadi pundit Sky Sports, Matt Le Tissier.
Apalagi, dalam 15 tahun era Roman Emperor sudah dikenal ringan menendang pelatih di saat musim belum berakhir. Dari sebelas pelatih yang dikontrak permanen, empat di antaranya harus jadi tumbal. Mourinho bahkan dua kali mengalaminya. ''Sulit untuk menghindarinya (dipecat),'' lanjut Le Tissier.
-

Senin, 05 Februari 2018
JK Ceritakan Sosok Ustaz Abdul Somad Usai Ikuti Ceramahnya -

Senin, 05 Februari 2018
Marcus Gideon Bersiap Menikahi Dokter -

Senin, 05 Februari 2018
Bupati Jombang Resmi Tersangka di KPK, Begini Kasusnya -

Senin, 05 Februari 2018
Katulampa Siaga I, Banjir Bakal Genangi Sebagian Jakarta -

Senin, 05 Februari 2018
Giliran Wakil Bupati Tolitoli Dipanggil ke Kemendagri -

Senin, 05 Februari 2018
Susah Pecah Pertahanan Garuda, Satria Muda Tetap Menang -

Senin, 05 Februari 2018
India Open 2018: Indonesia 2, Tuan Rumah Hampa -

Senin, 05 Februari 2018
Sriwijaya FC Jinakkan Singo Edan di Manahan
Comments
Post a Comment